Menikmati Keindahan Yogyakarta


Sebagai orang yang lebih sering menghabiskan kehidupan di dunia maya, saya termasuk salah satu orang yang butuh sekali hiburan di kehidupan nyata. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk  pergi jalan-jalan dan beristirahat sejenak dari layar komputer dan sedikit mengurangi aktivitas pada gadget yang saya miliki. Untuk destinasi tempat yang ingin saya kunjungi yaitu Yogyakarta. Tempat yang terkenal dengan Bakpianya ini, sebenarnya sudah pernah saya kunjungi. Hanya saja yang membuat perjalanan ini berbeda dari perjalanan saya ke Yogyakarta sebelumnya, yaitu saya di sini hanya berdua bersama nenek teman.

Pada trip sebelumnya saya diharuskan datang ke Yogyakarta bersama teman-teman SMK, itu pun acara study tour dari pihak sekolah. Jadi kurang asik dan sangat tidak bebas, karena semuanya harus mengikuti aturan dari pihak sekolah -_-. Alasan lain kenapa saya ingin datang ke Yogyakarta karena di sana banyak terdapat tempat-tempat wisata yang indah dan wajib untuk didatangi. Belum lagi salah satu sebutan lain untuk Yogyakarta ini adalah kota wisata. Jadi sudah pasti tempat wisatanya pun indah dan bagus.

(Sedikit informasi), Yogyakarta memiliki beberapa sebutan atau julukan seperti Kota Gudeg, Kota Pelajar, Kota Seni dan Budaya, Kota Pariwisata, Kota Republik, Kota Buku, Kota Keraton, Kota Geplak, Kota Seniman, Kota seribu sungai bawah laut dan masih banyak lagi sebutan untuk Yogyakarta.
Ini kali keduanya saya berkunjung ke Yogyakarta. Memang sih, tempat-tempat wisata di Yogyakarta ini sudah mainstream sekali untuk dikunjungi, karena sudah banyak sekali orang lain hingga teman-teman saya yang berbagi cerita liburan mereka saat di Yogyakarta di social media. Namun saya ingin mencoba datang kembali dengan itinerary yang sudah saya buat sendiri. Karena sebelumnya kan mengikuti aturan sekolah, jadi tidak asik gitu.

Rencana jalan-jalan ini sudah cukup lama planningnya, karena saya bukan termasuk orang yang jalan-jalan mendadak lalu uangnya langsung ada begitu saja. Tidak, tidak seperti itu... Untuk saat ini saya bukan orang yang seperti itu, namun tidak tahu deh kedepannya hahaha. Planning jalan-jalan ini sudah saya infokan ke beberapa teman-teman kampus. Awalnya sih mereka memberikan jawaban yang membuat saya berharap mereka bisa ikut. Namun detik-detik hari yang ditentukan, beberapa teman kampus tidak bisa dan menular ke teman-teman yang lain. Hingga akhirnya, tidak ada satu pun teman-teman kampus yang ikut, sedih sekali ya jadi saya :(

(Sedikit informasi), Itinerary merupakan jadwal perjalanan atau rencana perjalanan. Jadi kebanyakan traveller membuat jadwal perjalanan (itinerary) untuk kegiatan jalan-jalan mereka. Sehingga mereka memiliki acuan untuk melakukan sesuatu saat mengunjungi suatu tempat.
Kemudian, saat saya sudah bertekad dan memutuskan untuk berangkat sendiri. Tiba-tiba teman kosan memaksa untuk ikut jalan-jalan bersama saya. Akhirnya saya setuju dan dia lah orang yang menemani perjalanan yang absurd nantinya ini hahaha... Oya anggap saja teman saya ini bernama gemblong ya. Tanggal 27 September 2017, menurut tiket yang sudah dipesan, pukul 22.20 WIB kereta berangkat dari Jakarta menuju stasiun Lempuyangan. Saya berangkat dari stasiun Pasar Senen dan estimasi sampai di stasiun Lempuyangan pukul 06.38. Untuk tiket kereta api, saya bersama gemblong sudah membelinya dari beberapa hari lalu dengan total harga 250.000 rupiah (tiket pulang pergi). Pembelian tiket melalui salah satu supermarket yang bangunannya selalu bersebelahan dengan kompetitornya (kalian tahu lah).

Karena sudah lama tidak naik kereta ekonomi yang jarak perjalanannya cukup jauh. Badan terasa sedikit pegal, karena saya harus duduk tegak dan kaki tertekuk di kereta selama kurang lebih 8 jam. Jadi kalau mau tidur pun harus dalam keadaan duduk. Tapi untungnya saat di dalam kereta, kaki dapat berselonjor. Karena orang di depan saya tidur dengan keadaan kaki terbuka lebar. So, ada sedikit ruang yang bisa digunakan untuk memanjakan kaki imut saya ini yang sudah cukup pegal. Selain itu, tidur semakin asik, setelah beberapa penumpang yang ada di depan saya turun lebih dulu di stasiun tujuan mereka. Sehingga membuat keadaan menjadi lebih longgar deh.


Sesuai dengan jadwal, kereta sampai di stasiun Lempuyangan sekitar pukul 6:38. Saat turun dari kereta, langit masih terlihat menguning dengan matahari yang sudah sedikit mulai terbit. Jadi suasana dan pemandangan saat di stasiun sangat indah menurut saya, karena saya merasakan ketenangan dari sejuknya udara yang tidak didapatkan saat di kota. Setelah sampai di stasiun, bersama dengan gemblong, saya istirahat sebentar sambil melihat-lihat itinerary yang sudah dibuat.

Lalu keluar dari stasiun, banyak tukang ojek dan taksi yang siap mengangantar kalian kemana saja. Untuk destinasi pertama yaitu Candi Prambanan. Tapi sebelum kesana, saya dan gemblong mencari makan terlebih dahulu. Untuk mencari makan di sini tuh sangat mudah, karena di depan stasiun Lempuyangan banyak warung makan dan rental sepeda motor yang bisa kalian sewa. For your information (FYI), harga sewa motor di sini berkisar dari 65.000 rupiah hingga 80.000 rupiah. Semua itu tergantung bagaimana kalian pintar dalam menawar harganya.

Stasiun Lempuyangan
Setelah makan selesai, saya pun langsung mencari tahu bagaimana cara agar bisa sampai ke Candi Prambanan dari stasiun Lempuyangan. Setelah bertanya kepada salah satu ibu penjual makanan di sini, ada beberapa alternatif untuk menuju ke sana. Pertama, kalian bisa tetap berada di stasiun Lempuyangan, kemudian naik kereta prameks. Kedua, kalian bisa naik bus angkutan trans Jogja. Nah, di sini saya dan gemblong lebih memilih opsi naik trans Jogja.

Sebelum naik trans Jogja, saya harus naik becak terlebih dahulu untuk menuju terminal dimana bus berhenti. Jarak naik becak dari stasiun Lempuyangan ke terminal terdekat yaitu kurang lebih 3 kilometer. Saran dari saya sih lebih baik naik becak, karena hanya mengeluarkan uang 5.000 rupiah/satu orangnya. Kalian tidak akan capek karena harus berjalan hingga 3 kilometer. Sekalian memutar roda ekonomi, agar becak di sana tetap dapat penghasilan. Karena di Yogayakarta sudah banyak sekali ojek online. Sehingga sangat sulit tukang becak untuk mendapatkan penumpang. Oya alasan kami tidak naik kereta prameks, karena kereta tersebut terdapat jadwalnya. Nah untuk jadwal datangnya tidak sesuai dengan itinerary saya. Oleh sebab itu kami memutuskan untuk naik trans Jogja saja. 

Oya terminal di sini itu maksudnya seperti koridor busway yang ada di Jakarta ya. Okey, supaya lebih mudah, saya sebutnya koridor saja ya. Harga untuk naik trans Jogja itu 3.500 rupiah, sama seperti di Jakarta. Namun yang membedakannya adalah di trans Jogja kita membayar secara cash kepada penjaga, lalu nantinya pejaga yang akan membukakan pintunya dengan kartu yang mereka miliki. Beda sekali dengan Jakarta, dimana kita diharuskan menggunakan kartu sendiri yang kita miliki untuk aksesnya.

Jadi kalau di Jakarta self service untuk mengakses pintu koridornya, kalau di Yogayakarta kita dilayani oleh petugasnya saat akan masuk koridor. Dilayani ini untuk mereka yang tidak memiliki e-money. Jadi untuk yang memiliki e-money, tinggal tap sendiri seperti di Jakarta, kemudian masuk. Selama perjalanan menuju ke koridor trans Jogja, kami sempat bercerita-bercerita mengenai Yogyakarta sambil menikmati pemandangan jalan raya yang menurut saya sangat nyaman. Karena di sini tidak macet seperti di kota, jadi terlihat sejuk dan indah menurut saya. Banyak penjual makanan di setiap pinggir jalannya dengan berbagai jenis makanan dengan harga yang sangat murah. Rasanya saya ingin berhenti sejenak di salah satu tempat makan tersebut dan menikmati makanan-makanannya. Namun sayang saya sudah memiliki jadwal untuk segera ke Candi Prambanan.

Perjalanan Menuju Koridor
Ini orang yang sudah berjasa mengantarkan kami ke koridor. Dia memang sudah tua, namun semangatnya untuk mencari nafkah untuk keluarga tidak berkurang sama sekali. Untuk kalian yang main ke Yogyakarta, jangan lupa naik becak bapak ini ya. Karena bapak ini juga sangat ramah, terlihat dari bagaimana ketika dia berbagi cerita mengenai Yogyakarta kepada kami. Jadi selama perjalanan dari stasiun ke koridor kami tidak bosan. Sudah jalanan tidak macet, udaranya sejuk, tukang becaknya ramah lagi. Nikmat pokoknya deh. Yaaaa kalau kalian tidak ketemua dengan bapak ini, pokoknya cari sampai ketemu hahaha *pemaksaan

Kesatria Pengayuh
Untuk lama perjalanan dari koridor tempat saya naik trans Jogja menuju Candi Prambanan yaitu kurang lebih satu jam. Dari penumpang di bus penuh,  sampai yang tersisa hanya saya dengan si gemblong saja hahaha... Karena memang koridor Prambanan itu menjadi destinasi terakhir di trans Jogja. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari orang sekitar situ, kalau mau ke Candi Prambanan jalan kaki saja, karena jaraknya itu kurang  lebih 1 km, jadi tidak terlalu jauh dari tempat pemberhentian trans Jogja. Jadi kalau turun dari trans Jogja lalu ada ojek pangkalan atau becak yang menawarkan jasanya ke Prambanan, sebaiknya tidak usah. Karena jaraknya dekat kok, sekaligus menikmati udara segar setelah lama di dalam bus. Tapi kalau kalian mau memutar roda ekonomi, monggo silahkan naik becak atau ojek pangkalan saja. Itung-itung membantu perekonomiannya kan.


Nah,  kawasan di Prambanan sama seperti di Borobudur, kawasannya lumayan luas. Saat sampai di kawasannya, banyak beberapa bangunan seperti pendopo yang sedang dibangun. Belum tahu bangunan-bangunan tersebut untuk apa, karena tidak sempat menanyakannya dan telalu antusias ingin melihat candi Prambanan. Untuk harga tiket masuk ke Candi Prambanan yaitu 40rb (karena sudah naik), sama seperti harga tiket masuk ke Candi Boko. Setelah membeli tiket, kami masuk ke areanya dan menurut saya sangat bagus pemandangannya. Karena jujur ini pertama kalinya saya ke Candi Prambanan hahaha.... dari jauh candi-candi sudah sangat terlihat, itu membuat saya semakin antusias dan ingin segera melihatnya lebih dekat lagi. Sebelum lebih dekat ke candi, kita bisa menikmati pemandangan sekitar dengan rumput-rumput indah sebagai penghias jalannya. Jadi seperti di lapangan bola gitu loh  rumputnya hahaha.... Tapi jangan tiduran juga ya di rumputnya, karena banyak sekali pengunjung. Nanti kalian disangka rada-rada loh :D

Area Prambanan
Sedikit intermezzo ya, saat ini Prambanan memiliki 8 candi yang diantaranya 7 candi yang tidak terlalu besar dan 1 Candi besarnya. Di masing-masing candi terdapat ruangan gelap yang sebetulnya saya sendiri juga belum tahu ruangan kosong tersebut untuk apa. Karena ada sebagian ruangan candi yang tidak terdapat isinya sama sekali, jadi seperti ruangan kosong yang tak berpenghuni. Tapi candi yang lainnya terdapat sebuah arca-arca yang cukup besar.

Candi Kecil
Kalau di candi yang besar, terdapat 4 ruangan gelap seperti di candi-candi kecilnya. Nah untuk ruangan yang di candi besar ini terdapat arca-arcanya, dan sepertinya menyimpan kisah disetiap ruangannya. Saya juga mendapatkan info dari warga sekitar bahwa terdapat arca Roro Jonggrang di salah satu ruangannya, tapi saya tidak menanyakan mengenai letak persis arca tersebut. Namun perkiraan saya pasti ada di salah satu ruangan-ruangan gelap tersebut. Kalau kalian penasaran siapa itu Roro Jonggrang dan bagaimana kisahnya, silahkan cari sendiri di Google ya hahaha... Hal yang paling saya suka saat berkunjung ke Candi Prambanan yaitu keindahan candi itu sendiri. Belum lagi ditambah dengan pemandangan awan di langit yang menambah indahnya pemandangan candi maupun keindahan suasana sekitar candi. Oya pemandangan disekitar candi juga sangat indah, kalian bisa melihat betapa luas dan bagusnya pemandangan disekitar candi.

Candi Besar
Oya, kebanyakan pengunjung di sini yaitu turis dari luar loh. Saat saya datang ke sini sangat banyak pengunjungnya. Ada yang berkunjung secara rombongan maupun yang double trip seperti saya. Mungkin mereka penasaran dengan sejarah dari Candi Prambanan ini. Karena setelah saya baca di Google, sejarah dari Candi Prambanan ini sangat menarik loh. Di sisi lain candi, banyak batu-batuan yang besar bergelatakan. Kemungkinan itu merupakan bekas runtuhan akibat gempa yang menimpa Candi Prambanan tahun 2006 lalu. Tapi masih bagus kok untuk menjadi spot foto, seperti yang saya jelaskan di atas, karena area Prambanan yang luas dan didukung dengan pemandangan langitnya yang indah. Jadi ini merupakan pemandangan landscape yang sangat indah.

(Cekrek) Area Prambanan
Di Prambanan saya tidak terlalu lama, karena cuacanya mendung. Sepanjang perjalanan pulang dari Prambanan, pemandangan sangat indah dan sangat sejuk, karena banyak pohon-pohon yang tumbuh di are Prambanan ini. Jadi walaupun jarak perjalanan cukup jauh ke arah pintu keluar, semua itu tertutupi dengan nikmat pemandangan dan sejuknya suasana di Area Prambanan. Di sini juga terdapat museum loh, Tapi sayang museum yang ada di kawasan tersebut sedang dalam perbaikan. Oya di sini kalian bisa menyewa sepeda untuk mengelilingi kawasan prambanan, atau bisa juga naik mobil golf mini gitu.

Kisaran harganya itu mulai dari 15.000 rupiah sampai 20.000 rupiah kalau tidak salah hehehe. Selain itu juga ada tempat sewa untuk bermain panahan. Jadi selain tempatnya yang sejuk dan indah, banyak fasilitas yang bisa kalian nikmati di sini. Tapi ingat ya, fasilitasnya bayar hahaha.... Gak mahal kok, karena harganya masih terjangkau. Nah kalian sudah pernah ke Candi Borobudur belum? Kalo sudah, jalur pulang dari Candi Prambanan sama seperti di Candi Borobudur. Dimana banyak pedagang-pedagang yang menjual barang-barang khas daerah situ. Tapi sebelum beli, jangan lupa ditawar ya, biar gak kemahalan hahaha

Area Jalan Pulang Candi Prambanan
Setelah lelah menikmati indahnya candi Prambanan, saya dan gemblong akhirnya menuju ke tempat penginapan. Sebenarnya saya masih mau berlama-lama di Candi Prambanan. Karena pemandangan di area tersebut tuh keren banget dan bikin gak bosen walaupun kalian lama memandanginya. Yaaaa kaya kalian mandangin muka gebetan deh popoknya, adem, bikin nyaman dan gak mau berpaling gitu hahaha.... FYI, check in ke tempat penginapan itu jam 14:00, jadi kami pulang dari Prambanan sehabis sholat zuhur.

Untuk menuju ke penginapan kami naik trans Jogja lagi. Tapi kali ini turunnya di Gembira Loka. Bagi kamu yang belum tahu, Gembira Loka itu merupakan kebun binatang yang ada di Yogyakarta. Tapi karena saya dan gemblong harus segera sampai penginapan, jadi kami tidak sempat untuk berkunjung ke Gembira Loka. kebetulan cuaca saat itu sedang hujan, jadi kalau pun jadi berkunjung ke Gembira Loka pasti kurang seru, karena terlalu banyak berteduhnya.


Dari Gembira Loka, kami harus jalan kaki sejauh 1,5 km ke penginapan. Sengaja tidak naik angkutan umum maupun pesen ojek online, karena agar lebih terasa jalan-jalannya dan terasa juga pegalnya hahaha... ditambah lagi saat jalan cuaca sedang hujan, jadi semakin seru aja deh. Tenang di sini kendaraannya tidak terlalu banyak yang lalu lalang, beda dengan pemandangan jalan raya di kota. Sampai di penginapan, saya lapor ke penjaga penginapan dan ditunjukan kamarnya.

Nah kamarnya ini menurut saya sih better, karena kasurnya lumayan besar dan empuk. Yaaaaaa walaupun ukuran kamarnya kecil, tapi di sini sudah sangat cukup untuk 2 orang. Ditambah lagi, pihak penginapan memberikan layanan handuk gratis dan beberapa alat mandi. Di penginapan ini, cuma makanan saja yang tidak dapat, namun diberikan fasilitas TV dan AC. Jadi untuk sarapan, makan siang, dan makan malam harus beli sendiri di luar. Tapi itu tidak masalah, karena kami jadi lebih bisa menikmati makanan-makanan di Yogyakarta.

Dekat dari penginapan terdapat angkringan dan harganya itu sangat murah. Untuk harga tempe goreng saja hanya 500 rupiah dan itu enak sekali. Nasi kucingnya pun banyak, jadi untuk porsi nasi kucingnya itu seperti kita memesan makan di warteg tapi nasinya setengah, nah segitu tuh porsinya. Harga lauk-lauknya pun juga murah, mulai dari 1.000 rupiah hingga 2.500 rupiah. Saya saja makan di situ hanya habis 11.500 dan itu sudah termasuk dengan tambahanan nasi. maklum anak kosan, bawaannya laper melulu hehehe...

Sebetulnya saya dan gemblong ingin makan di daerah bukit bintang sambil menikmati indahnya pemandangan kota Yogyakarta di malam hari. Tapi karena cuaca hujan, sehingga kami tidak jadi pergi ke sana dan lebih memilih makan malam di angkringan dekat penginapan. Karena kalau hujan, di bukit bintang pemandangan yang bisa kalian lihat itu kabut. Okey, setelah kenyang memberikan makan naga di perut, saya dan gemblong kembali lagi ke penginapan. Tapi kami tidak tidur, saya dan gemblong bersiap-siap untuk jalan ke Tugu Jogja.

Kami pergi ke sana, karena penjual angkringan bilang, di sini kalau malam-malam tidak keluar tuh sayang banget. Mendengar ucapan tersebut, kami termotivasi untuk jalan-jalan malam melihat keindahan Yogyakarta di malam hari. Okey, karena tidak sewa motor, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa ojek online. Tugu Jogja ini jaraknya sangat dekat ya dengan Malioboro. Jadi kalau kalian mau ke Tugu Jogja, kalian bisa mampir terlebih duhulu ke Malioboro.

Sesampainya di Malioboro, saya sempat terkejut. Kenapa? Karena sangat ramai pengunjung di Malioboro, khusunya pengunjung domestik ya. Karena penasaran dengan apa yang membuat Malioboro ini ramai sekali padahal malam hari, kami memutuskan untuk berjalan dari ujung titik awal Malioboro hingga ke ujung satunya. Setiap perjalanan kami mengamati ternyata yang membuat ramai yaitu hiburan dan pedagangnya.

Musisi
Yaps, di Malioboro kalian bisa menikmati suasana yang nyaman dengan lantunan lagu-lagu dari para musisi jalanan di pinggiran jalan Malioboro. Jadi buat kalian yang sedang makan ataupun berbelanja dapat terhibur oleh para musisi jalanan tersebut. Belum lagi para pedagang yang menghiasi setiap jalan dengan produk-produk andalan mereka. Jujur saya sangat menikmati setiap langkah di Malioboro. Karena setiap jalannya terdapat lampu-lampu indah dan pemandnagan orang duduk santai di pinggir jalan namun tetap teratur.

Belum lagi nikmatnya suara dari musisi jalanan yang menemani malam di Malioboro. Di sini saya tidak sempat mengabadikannya, karena saya terlena menikmmati keramaian dan kenyamanan di Malioboro. Sayang sekali saya datang ke sini bersama si gemblong, seandainya saya bawa teman perempuan hmmm. Mungkin akan menjadi lebiiihhhhhh..... Ah sudahlah hahaha... Singkat cerita, karena besoknya kita harus jalan-jalan lagi melanjutkan itinerary yang udah dibuat dengan jerih payah dan kerja keras ini (lebay). Kami pun langsung menuju Tugu Jogja dan setelah itu langsung kembali ke penginapan.


Okey cakep banget, ternyata saya kesiangan -_- Ternyata saya dan si gemblong kebo juga, hadeh hadeh. Karena gak sesuai jadwal bangun tidurnya, akhirnya kami berangkat setelah sholat Jumat. Destinasi pertama yaitu Keraton... kenapa Keraton? Karena jam operasionalnya sangat singkat, yaitu tutup jam 14:00. Singkat cerita, setelah naik trans Jogja akhirnya kami sampai. Tapi lagi-lagi tidak sesuai perkiraan. Dari informasi yang didapat dari tukang becak, Keraton tutup -_- kenapa tutup? Karena keraton dahulunya merupakan kerajaan islam, dan di hari Jumat mereka tutup lebih awal dari jadwal biasanya.

Karena belum bisa masuk, saya cuma bisa berfoto di area Keraton. Di depan Keraton ini terdapat alun-alun yang sangat luas dengan dihiasi dua buah pohon besar yang berdiri tegak sejajar dan berdampingan hingga ajal memisahkan mereka *eeaaa. Saat saya melihat dua pohon tersebut, ini merupakan spot yang bagus untuk berfoto, akhirnyaaaaaaa saya cekrek juga deh :D Abaikan sendal jepit yang tipis itu ya sob hahaha. Bangunan dengan atap berwarna cokelat di belakang saya itu lah merupakan Keraton. Kalau kalian langsung datang ke sini, kalian akan tahu bahwa dua pohon ini sangat besar dan bagusnya. Mungkin yang terdapat di foto hanya bagian dua pohon itu saja, tapi kalau kalian langsung datang ke sini, kalian akan melihat betapa luasnya area alun-alun ini.

(Cekrek) Depan Keraton
Destinasi kedua yaitu Museum Vredeburg. Kalo museum ini tutup pukul 16:00. Setelah saya dan gemblong belum bisa berkunjung ke Keraton, kami memutuskan langsung cusss ke Museum Vredeburg. Jarak dari Keraton ke Museum Vredebrug sangat dekat, hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit saja dengan berjalan kaki. Harga tiket yang ditawarkan di Museum ini yaitu 3.000 rupiah saja. Di sini kalian bisa liat 4 ruangan berbeda dengan diorama yang berbeda pula. Diorama ini menceritakan kisah masa lalu dari Museum Vredeburg itu sendiri. Namun sayangnya banyak beberapa item pajangan yang harus di simpan untuk keperluan apa gitu saya lupa hahaha :D

Tampak Depan Museum Vredebrug
Papan Penunjuk Jalan
Saat asik menjelajahi museum, saya melihat ada satu ruangan yang sedang mengadakan sebuah event. Jadi eventnya itu berisi pameran lukisan dari berbagai negara. Untuk masuk ke ruangan ini, hanya butuh menuliskan nama dan alamat email di buku tamu saja. tapi kalo mau beli bukunya juga ada, bukunya nanti berisi lukisan-lukisan yang sedang dipamerkan di ruangan tersebut. Lukisan-lukisannya asli bagus parah loh hahaha. Karena lukisannya bagus-bagus sekali, akhirnya saya cekrek lagi deh. Di foto ini baru sebagian saja lukisannya yang terlihat, tapi di sisi lainnya masih banyak lagi lukisan-lukisannya. Oya, jangan tanya gemblong yang mana ya di foto ini, because you know what i mean laaaa :D

(Cekrek) di Dalam Museum


Setelah puas melihat semua lukisan dan menjelajahi area Museum Vredebrug. Saya dan gemblong memutuskan untuk ke Pantai Parangtritis. Namun setelah saya mendapatkan beberapa informasi, ternyata untuk transportasi ke pantai hanya beroperasi hingga pukul 5 sore saja. Jadi jika lewat dari pukul 5 sore, sudah tidak ada transportasi dari Pantai Parangtritis menuju ke kota Yogyakarta. Sedangkan kami berangkat dari Museum itu kira-kira pukul 4 sore.

Tapi karena si gemblong sudah lama tidak berkunjung kesana, kira-kira 4 tahun yang lalu terakhir kali, kalau tidak salah dia bilangnya. Jadi kami nekat pergi dengan harapan adanya keajaiban yang bisa mengantarkan kami kembali lagi hahaha. Untuk jaraknya yaitu kurang lebih 27 kilometer ke arah selatan kota Yogyakarta, tepatnya di Bantul, Yogyakarta. Untuk bisa ke Pantai Parangtritis, kami naik trans Jogja lagi dan turun di tempat bus angkutan umum biasa mangkal. Saya lupa nama tempatnya, nanti kalian bisa tanya langsung ke penjaga koridor di trans Jogja ya.

Biaya naik bus angkutan umum ini yaitu Rp 20.000, dan menurut saya itu harga yang cukup mahal sih. Tapi mengingat jarak tempuh dari saya naik hingga ke Pantai lumayan jauh, jadi okelah fine aja dengan harga tersebut. Mungkin sudah ada beberapa yang mengetahuinya, tapi bagi yang belum tahu, jaraknya tuh memang sangat jauh. Saya saja menghabiskan waktu selama satu jam lebih dan sempat tertidur di dalam bus. Walaupun busnya seperti metromini atau kopaja di kota, tapi karena sepanjang jalan suasananya sejuk, jadi gerah dan sumpeknya bus teralihkan dengan kesejukan pohon-pohon sepanjang perjalanan.

Satu jam lebih saya dan gemblong di dalam bus, akhirnya sampai juga di Pantai Parangtritis. Ini pertama kalinya saya datang ke sini. Kesan saya untuk pantai ini sangat baik. Karena anginnya yang kencang nan sejuk, dan suasananya tepat sekali karena sepi jadi membuat saya bisa lebih menikmatinya. Salah satu spot andalan untuk berfoto menurut saya di depan tulisan "Pantai Parangtritis". Karena banyak sekali orang-orang termasuk teman saya dan saya sendiri yang berfoto di sini. Kalau dilihat di foto, ada beberapa pasir yang sudah tertutup batu-batu. Namun hanya bagian di situ saja, dan sisanya itu pasir dan air saja. Foto di depan tulisannya ini lebih baik saat sore hari menjelang matahari terbenam. Karena akan terlihat lebih bagus dengan cahaya senja di belakangnya.

Pantai Parangtritis
Seandainya saya datang lebih awal, mungkin saya bisa lebih lama menikmati suasana sejuk di pantai ini. Ini bukan hanya sekedar opini ya, tapi memang pemandangan di Pantai Parangtritis keren dan bagus sekali. Mungkin sedikit sulit memberikan kata yang tepat untuk menggambarkan bagusnya pantai ini. Lebih baik kalian langsung datang dan membuktikannya. Jika kalian ke sini, kalian akan di sambut oleh kencangnya angin dan derasnya ombak Parangtritis. Saran saya jangan berenang di pantai ini, karena ombaknya sangat besar. Lebih baik kalian duduk di pinggir pantai sambil menikmati desiran ombaknya, sejuknya angin, indahnya langit dengan diiringi lagu favorit kalian. Ini tempat rekomendasi banget untuk me time deh pokoknya. Karena membuat kalian betah dan ingin berlama-lama di sini.

Pantai Parangtritis
Jujur saya dan gemblong sangat puas dengan keindahan Parangtritis, namun masih ada satu hal yang mengganjal yang harus kami pikirkan solusinya. Gimana kami berdua pulangnyaaaaaaaaaaaaaaaaaa? Serius di sini benar-benar tidak ada angkutan umum sama sekali, saya mencoba memesan ojek online pun tidak ada yang mau menerima. Mungkin karena jarak tempuhnya terlalu jauh, sehingga banyak ojek online yang enggan menerimanya. Gemblong sempat bertanya ke warga sekitar mengenai transportasi pulang dari sini ke kota Yogyakarta. Lalu gemblong diberitahu lebih baik sewa mobil di sini saja seharga Rp 250.000, karena angkutan umum tidak akan ada yang lewat.

WHAAAAAAT? Rp 250.000? Itu harga yang menurut saya sangat mahal. Iya saya tahu, mengingat tidak adanya angkutan umum yang lewat sini, makanya mereka berani memberikan harga segitu. Saya menolak dan mengajak si gemblong untuk jalan kaki terlebih dahulu sampai mendapakan sebuah tumpangan. Saat perjalanan, saya dan gemblong selalu melambaikan tangan dengan harapan mendapat tumpangan dari orang-orang yang lewat.

Agar seperti di luar Negeri gitu loh hahaha... Tapi faktanya itu tidak berhasil di sini, saya dan gemblong sama sekali tidak mendapat tumpangan. Kami sudah berjalan cukup jauh dari Pantai Parangtritis dan masih belum juga mendapatkan tumpangan. Belum lagi, hari semakin gelap dan sepanjang perjalanan banyak sekali pohon-pohon serta ilalang, bukan gedung-gedung seperti di kota. Jadi suasanya cukup horor waktu itu. Hingga akhirnya gemblong menyerah dan mengajak saya untuk menyewa mobil dengan harga Rp 250.000 tadi. Namun saya tetap sangat menolak. Kurang lebih percakapan saya dengan gemblong seperti ini

Gemblong : Bang, udah kita bayar Rp 250.000 aja sewa mobil yang tadi.

Saya : Ogah dut, gue gak mau.

Gemblong : Gpp bang, nanti gue aja yang bayar.

Saya : Gak mau gue dut. Gue mau bayar kalo ada mobil yang mau disewa dengan harga Rp 100.000 dut.

Tidak lama saya berkata seperti itu, ada satu bus angkutan umum lewat dan langsung kami berhentikan. Saat naik, kami bertanya ke supirnya, apakah ini menuju ke kota Yogyakarta, namun supirnya bilang bahwa dia tidak menuju ke situ, karena dia mau pulang ke rumah. Akhirnya di situ gemblong memberikan harga Rp 100.000 agar supirnya mau mengantarkan kami ke kota Yogyakarta, dan supirnya pun setuju. Di situ saya sempat bingung, kok bisa ya setelah saya berkata seperti itu, lalu tiba-tiba ada bus yang datang dan mau mengantarkan kami berdua. Selain itu, harga yang harus kami bayar pun sama seperti yang saya inginkan. Sepanjang perjalanan saya pun tertawa mengingat semua kejadian tersebut. Ini merupakan pengalaman indah menurut saya dan akan saya ceritakan ke anak-anak saya nantinya hahaha....

Oya, sesampainya di tempat tujuan, saya dan gemblong tidak langsung menuju penginapan. Tapi saya langsung menuju ke Alun-alun Kidul. Dengan keadaan belum mandi dan pasir pantai masih menempel di kaki, kami langsung cus pergi ke Alun-alun Kidul dengan berjalan kaki dari tempat kami turun dari bus. Jaraknya lumayan deket kok, maka dari itu saya dan gemblong berani berjalan kaki. Saya ke sini hanya ingin melihat bagaimana suasana alun-alun kidul di malam hari sekaligus mencicipi makanannya.

Baru sampai di Alun-alun Kidul, kami disambut oleh mobil-mobil dengan cahaya lampu yang gemerlap. Namun ini bukan mobil sungguhan yang mengoperasikannya sama seperti mobil pada umumnya. Tapi cara mengoperasikan mobil-mobil ini yaitu dengan dikayuh seperti mengendarai sepeda. Banyak sekali pengunjung yang mencoba wahana ini, tapi saya kurang tertarik, karena saya hanya ingin menikmati suasana sejuknya malam hari di Alun-Alun Kidul sambil menikmati wedang rondenya. Tapi saya akui mobil-mobil ini keren sekali dan pembuatnya sangat kreatif menurut saya. Oya jangan lupa kalian pokoknya harus mencoba wedang rondenya. Karena wedang rondenya tuh hangat dan sangat cocok dinikmati di alun-alun Kidul yang dingin karena hembusan anginnya.

Mobil Power Ranger
Karena sudah sangat malam menurut saya, jadi kami memutuskan untuk segera kembali ke penginapan. Karena besok siangnya kami sudah harus segera check out dari penginapan. Seperti biasa, sampai di penginapan, kami cuci kaki, cuci muka, cuci hal-hal lain yang memang harus dicuci (kalian tau maksud saya), lalu langsung segera tidur. Besoknya kami tidak kesiangan, karena setelah bangun tidur kami tidak tidur kembali seperti sebelumnya hahaha...

Ini hari terakhir kami di Yogyakarta. Sebelum kembali pulang ke kota, saya dan gemblong memutuskan pergi ke Keraton yang sebelumnya belum bisa kami kunjungi. And Booom, kami akhirnya bisa kesana. Suasana di sini tidak sempat saya abadikan, karena di sini memang hanya ada beberapa foto-foto Sultan, alat-alat kerajaan dan beberapa patung yang menceritakan kisah dari Keraton itu sendiri.

Okey next, setelah selesai berkeliling di Keraton, kami langsung pergi untuk membeli beberapa oleh-oleh seperti bakpia, dan lain-lain. Tapi di sini saya hanya membeli bakpia saja, lain-lainnya tidak saya beli hahaha... karena saya termasuk orang yang tidak mau ribet kalau jalan-jalan. Jadi berangkat jalan-jalan bawa barang secukupnya dan kalau kembali dari jalan-jalan ya tidak usah bawa yang terlalu banyak tapi secukupnya saja. Oya selain bakpia, saya juga membeli blangkon untuk teman saya dan satu buah t-shirt untuk papski (bapak saya).

Setelah semua selesai kami pun langsung menuju ke Stasiun Lempuyangan untuk menuju kota. Sebetulnya saya berat untuk meninggalkan Yogyakarta, karena masih banyak keindahannya yang masih belum dapat saya nikmati. Tapi saya berharap bisa kembali datang ke sini dan menikmati semua keindahan Yogyakarta yang belum sempat saya kunjungi semuanya. Okey, dari pengalaman saya jalan-jalan selama di sini, saya merasa puas sekali.

Walaupun destinasi tempat wisata yang saya kunjungi itu mainstream sekali untuk sebagian orang, tapi tidak untuk saya. Karena tempat-tempat yang saya kunjungi merupakan pertama kalinya bagi saya, kecuali Malioboro ya. karena Malioboro sudah pernah saya kunjungi di trip saya bersama sekolah waktu SMK. Tapi dari semua itu, menurut saya tetap okey untuk dikunjungi. Karena pemandangan dan suasana di Yogyakarta sangat indah dan nyaman.

Kalian bisa liat di atas (penjelasan sebelumnya), bahwa pemandangan-pemandangan di Candi Prambanan dan di Pantai Parangtritis itu sangat bisa memanjakan mata dan jiwa. Langit-langitnya, udaranya, para warga yang sangat ramah, merupakan hal yang tidak bisa saya lupakan dan selalu teringat hingga saat ini. Rasanya saya ingin lebih lama lagi berlibur di Yogyakarta. Tapi karena keterbatasan waktu dan uang, jadi kami tidak dapat berlam-lama di sini dan tidak dapat menjelajahi tempat-tempat wisata lainnya.

Tapi saya dan gemblong sudah merasa puas dan terhibur dengan tempat-tempat yang kami kunjungi. Apalagi pengalaman saat di Pantai Parangtritis, itu merupakan pengalaman yang akan kami ingat selamanya. Kejadian itu juga memberikan pelajaran kepada kami berdua, bahwa omongan orang yang lebih tua dari kita itu ada benarnya juga. Seandainya kami mendengerkan perkataan dari bapak penjaga koridor, mungkin kami tidak harus sampai mengeluarkan uang 100.000 rupiah untuk biaya sewa bus angkutan umum hahaha.

Tapi kami juga sangat bersyukur, karena dengan kejadian tersebut, jalan-jalan kami lebih berwarna dan memiliki cerita. Sebenarnya bukan masalah tempat wisata tersebut mainstream atau tidak. Tapi bagaimana kita sendiri sebagai pengunjung menikmatinya. Karena setiap pengunjung mempunyai caranya sendiri untuk menikmati liburannya. Buatlah cara kalian sendiri bagaimana menikmati liburan tersebut, yang berbeda yang menurut kalian bisa memberikan sesuatu yang tidak akan pernah terlupakan. Menurut kalian, tempat wisata apa lagi nih yang terdapat di Yogyakarta selain yang sudah disebutkan diatas dan wajib dikunjungi karena keindahannya?
Share:

8 comments:

  1. Wihh kebetulan ntr bulan maret mau backpacker ke Jogja juga nih saya mas. Thanks ya infonya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wiih enak mas. Have fun ya mas jalan-jalannya. Iya sama-sama mas.

      Delete
  2. Sumpah jarang banget Blogger yang ngeblog isinya cerita pengalaman pribadi kayak gini. Suka banget bacanya :D apalagi kalo curhatan

    ReplyDelete
  3. Jogjakarta menang keren.. semoga aku bisa lulus tes di UGM supaya bisa kuliah di kota joJog

    ReplyDelete

Copyright © panji | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com