Bahas Film : The Son of Bigfoot

Hmm, gimana ya. Sedikit bingung untuk memulainya. Takut dibilang sotoy nantinya. Jadi gini, saya baru saja menonton salah satu film kartun yang sempat tayang di bioskop kesayangan kita masing-masing. Judul filmnya yaitu The Son Of Bigfoot. Untuk artinya, kalian cari sendiri saja ya di google translate.

Saya merupakan salah satu orang yang bisa dibilang sudah memiliki umur yang cukup tua tapi masih menjadikan film kartun sebagai film favorit. Kalau ditanya alasannya, ya banyak pastinya. Seperti contohnya di artikel saya yang sebelumnya yang membahas mengenai salah satu anime musim panas yaitu Sword Art Online.

Di artikel kali ini, saya ingin berbagi opini mengenai film kartun dari perusahaan produksi nWAVE picture dan studi Canal. Film yang rilis di Indonesia pada tanggal 9 Mei 2018 ini, memiliki durasi film yang cukup  lama yaitu 1 jam 32 menit. Tapi itu termasuk dengan opening dan credit title film tersebut.

Sebelum saya menonton, saya sempat mengecek nilai rating film tersebut di salah satu website yang biasa saya kunjungi yaitu IMDb. Setelah melihat nilainya, saya penasaran kenapa film kartun dari luar negeri hanya mendapatkan nilai 6,1/10. Awalnya malas ingin menonton karena nilai tersebut cukup rendah. Tapi karena penasaran, ya akhirnya nonton juga deh.

Saya di sini memposisikan diri sebagai penonton biasa. Sehingga opini saya nantinya bukan sebagai seorang yang ahli di bidang perfilman. Okey kita mulai. Pertama, untuk jalan cerita yang terdapat pada film ini cukup simpel dan monoton. Bisa dikatan film ini seperti menonton film drama real action yang kemudian diadaptasi menjadi film kartun. visualisasi dari film The Son of bigfoot sendiri menurut saya biasa saja. Karena latar tempat dan gambar yang diberikan sudah umum dan tampak biasa saja tidak seperti film kartun disney kebanyakan.

Alur cerita yang diberikan cukup berat untuk ukuran film kartun yang sebenarnya ditujukan untuk anak-anak kecil. Yaa bagus sih, tema yang diangkat mengenai keluarga. Karena pada film ini mengisahkan seorang anak bernama Adam yang mengetahui bahwa ayahnya yang sudah meninggal sejak iya masih kecil berdarkan kisah yang diceritakan Ibunya.

Tapi kenyataannya Ayahnya masih hidup dan memiliki alasan penting kenapa ia tidak bisa hidup bersama istri dan anaknya Adam, dan lebih memilih bersembunyi di dalam hutan. Hal ini dikarenakan terdapat perusahan besar yang bergerak dibidang pembuatan hormon rambut manusia, yang membutuhkan DNA Ayahnya Adam sebagai bigfoot.

Jadi di film ini, Adam sebagai seorang anak yang hidup hanya berdua bersama Ibunya sejak ia kecil, dan kurangnya kasih sayang dari seorang Ayah. Ditambah lagi masalah yang selalu ia terima di sekolah yaitu bullying dari teman-temannya. Mungkin kalian akan berpikir bahwa kehidupan Adam sangat menyedihkan. Karena sudah jatuh tertimpa tangga pula. Dalam arti sudah tidak ada kasih sayang dari seorang Ayah, lalu ditambah di sekolah selalu mendapat bullying.

Namun kenyataannya kesedihan tersebut tidak terasa sama sekali pada film ini. Karena keadaan pada film ini terlihat biasa saja. Saya sama sekali tidak merasakan kesedihan dari beban yang selama ini Adam terima. Ditambah lagi, saat Adam bertemu dengan Ayahnya dan mengetahui bahwa Ayahnya adalah Bigfoot. Ekspresi Adam hanya kaget sementara dan kemudian dapat beradaptasi dengan keadaan. Padahal Adam sudah lama sekali tidak melihat Ayahnya dan menetahui Ayahnya meninggal.

Jadi menurut saya kurang kena sih sedihnya. Kemudian penggambaran kegiatan Adam di sekolah terlalu sebentar dan kurang informatif. Sehingga kesan bullying yang diterima Adam kurang mengena bagi saya yang melihatnya. Karena di situ pun Adam terlihat santai saat ia menerima bullying dan bullying-nya seperti dibalut sedikit keceriaan. jadi kesan intimidasinya sedikit kurang. Ya mungkin karena target penontonn ya anak-anak kecil, jadi kesedihannya dikurangin dan keceriaannya lebih diperbanyak.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, bahwa visualisasi yang diberikan pun biasa saja. mengingat gambaran yang diberikan yaitu pemandangan pohon-pohon dari atas bukit, rumah, sekolah, taman bermain. Sedangkan bila di film real action pun itu merupakah hal yang sudah biasa. Karena menurut saya, sebuah film kartun itu seharusnya memiliki imajinasi visualisasi yang lebih dari film real action. Kita ambil contoh seperti film How to Train Your Dragon, Coco, dan Moana. Film-film tersebut memilki imajinasi yang sebelumnya belum pernah terpikirkan oleh penonton. Jadi itulah yang menjadi nilai lebih dari film kartun menurut saya.

Kemudian untuk peran Ibunya sendiri pun terlalu sedikit, mengingat bahwa Adam merupakan anak yang sudah lama tidak bertemu Ayahnya. Ya tapi gak tau juga sih, mungkin pihak produksi lebih mengutamakan dan memfokuskan ikatan Adam dan Ayahnya. Jadi mungkin scene Ibunya di sini terlalu sedikit. Oya judulnya aja The Son of Bigfoot ya. Berarti benar, bahawa pihak film ingin memfokuskan cerita antara Adam dan bigfoot (Ayahnya).

Oya ada lagi nih, di setiap film pasti memiliki sedikit komedi di dalamnya. Nah untuk komedi di film The Son of Bigfoot sih saya bilang lumayan, walaupun mungkin beberapa anak kecil mungkin ada yang tidak mengerti. Saya pun juga bingung pada salah satu komedi di film ini. Salah satu contohnya ada di adegan ketika Adam dan teman-teman hewannya ingin menyelinap ke truk terakhir untuk menyelamatkan Ayahnya.

Ketika beruang naik ke truk

Ini ketika beruang naik ke truk dan late temannya tumpah
Nah pada bagian tersebut, terdapat dua orang di bagian depan mobil. Satu sebagai supir dan satu hanya menemani saja sambil menikmati minuman late. Namun ketika beruang mulai naik ke truk, mobil tiba-tiba berhenti dan membuat salah satu orang yang di bagian depan mobil terkena tumpahan late yang dipegangnya karena mobil harus berhenti mendadak. Lalu temannya yang memegang kemudi tertawa ketika ia mengetahui temannya meminum late. Di situ saya bingung, memang ada yang lucu dari kata late?

Ini ketika temannya tertawa saat ia tau minuman yang diminum temannya adalah late
Ketika sampai di depan gedung
Kemudian semakin membingungkan lagi ketika truk sudah sampai ke tempat tujuan. Sebelum masuk ke gedung, mobil melakukan pemeriksaan dong seharusnya. Tapi di sini tidak di lakukan pemeriksaan sama sekali dan si penjaga hanya menanyakan kabar kepada supirnya. Kemudian supirnya bercerita mengenai temannya yang terkena tumpahan late sambil tertawa. Nah lucunya tuh di bagian mana pada kata late tersebut? Apa otak saya yang tidak sampai dengan lelucon yang telah dibuat. Hmm entahlah

Malah nanyain kabar bukannya meriksa mobil

Malah bahas late yang tadi dan dia ketawa lagi
Tapi sebaiknya saat truk akan masuk ke gedung, seharusnya dilakukan pemerikasaan yang benar, jadi tidak main masuk saja dengan mudahnya seperti itu. Jadi menurut saya sedikit membingungkan saja sih. Bisa gampang banget masuknya, padahal ada beruang yang besarnya mengalahakan ukuran gentong tersebut tidak terlihat sama sekali. Untuk memastikannya, kalian bisa tonton sedniri filmnya.

Kayanya jahat banget ya dari tadi kurangnya mulu yang dibahas tapi gak ada bagusnya. Ada kok bagusnya tenang aja. Pesan yang disampaikan film ini sangat bagus menurut saya.

Karena menurut saya di sini mengambil tema mengenai hebatnya sosok seorang Ayah, bagaimana kuatnya seorang Ibu yang harus menerima kenyataan yang terjadi pada keluarga kecilnya, dan bagaimana pentingnya sebuah ikatan yang kuat antar keluarga. Karena bagaimanapun juga, kepercayaan dalam suatu hubungan memang sangat diperlukan. Lalu bagaimana ikatan persahabatan yang kuat. Bagian ini digambarkan ketika para hewan ikut membantu menolong dan ketika Adam membebaskan para hewan yang tertangkap.

Opini saya tadi tidak berarti film ini tidak bagus. film ini menurut saya bagus, tapi ada catatan yang saya dapat dari beberapa kejanggalan di film The Son of Bigfoot. Ya contohnya seperti lelucon yang sudah saya sampaikan tadi. Tapi secara keseluruhan bagus kok. Editan pada setiap detail karakter, pepohonan, sekolah, keadaan di rumah dan sebagainya sangat bagus. Mungkin yang membuat rating nilainya cukup rendah dikarenakan alur ceritanya yang sedikit berat untuk ukuran film kartun yang seharusnya ditunjukan untuk anak-anak kecil. Dan mungkin karena visualisasi yang seharusnya memanjakan mata penonton, tapi tidak didapatkan dan tidak dirasakan oleh penonton itu sendiri. Jadi membuat film The Son of Bigfoot harus merasa cukup dengan rating nilai 6,1 dari 10.

Kalau dari saya, ada dua penilaian. Pertama berdasarkan alur dan tema cerita. Kedua dari visualisasi yang diberikan. Untuk alur dan tema yang diangkat cukup bagus, dimana film ini menurut saya mengambil alur cerita kekeluargaan dan mengggambarkan sedikit contoh praktek bullying di sekolah. Jadi untuk nilai berdasarkan cerita yaitu 7,3 dari 10. Sedangkan untuk visualisasi saya hanya memberikan nilai 6 dari 10. Karena visualisasi yang diberikan terlalu umum. Dimana seharusnya film kartun dapat memberikan imajinasi yang lebih tinggi lagi, yang mana penonton tidak terpikirkan sebelumnya.

Sekali lagi saya ingatkan, saya memposisikan diri sebagai penonton biasa, bukan sebagai ahli di bidang perfilman dari semua opini di atas ya. Jadi saya hanya berbagi pengalaman mengenai film The Son of Bigfoot yang sudah saya tonton. Kalau ada yang tidak sesuai, silahkan kita bahas di kolom komentar, tapi bijak dalam berkomentar ya. Karena setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing.
Bahas Film : The Son of Bigfoot

Post a Comment